oleh

212

Oleh: AHMADI SOFYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial —
KALAU tidak mampu menjadi singa Allah untuk membela dan menegakkan keadilan serta kebenaran, janganlah menjadi anjing Fir’aun yang terus menggonggong bahkan merongrong dengan membela kebahtilan karena hanya demi jabatan dan kekuasaan sesaat apalagi hanya sekedar untuk menjilat atasan atau penguasa!
————-
DULU, ketika Fir’aun sedang berkuasa dan menguasai, menghalalkan segala cara untuk mempertahankan dan memperkokoh kekuasaannya, memiliki popularitas yang tak terkalahkan dan pada titik nadirnya ia mengaku diri sebagai Tuhan. Ditengah kekuasaan itu, sebetulnya banyak diantara orang-orang Fir’aun yang tidak setuju dan tidak sejalan dengan apa yang telah dilakukan oleh Fir’aun yang kejam, tak beretika, tak bermoral, melanggar tatanan dan tuntunan yang ada, merusak kehidupan masyarakat, mulut yang seenaknya mengeluarkan kata-kata, setiap apa yang ia ucapkan adalah sabda, namun ternyata mereka-mereka itu tidak mampu berbuat apa-apa bahkan cenderung membela karena demi jabatan dan kekuasaan. Jika melawan dan kelihatan tidak sepaham, mereka khawatir nanti jabatan dan ceceran kekuasaan serta harta yang dimiliki tak lagi dapat diraih.

Ternyata, tamsil yang telah ditunjukkan beberapa ribu tahun silam, masih sangat relevan dalam kehidupan kita saat ini. Betapa banyak tokoh maupun orang yang menokohkan diri, berapa banyak organisasi-organisasi yang katanya berazaskan Islam, namun ketika Islam dihina ia malah tak berbuat apa-apa bahkan cenderung membuat sesuatu yang melemahkan semangat jihad yang dilakukan oleh umat muslim lainnya.

Loading...

Aksi penegakan hukum dikaitkan dengan penggembosan Bhinneka Tunggal Ika, politik dan makar. Siapa yang sesungguhnya menggerogoti? Siapa yang sesungguhnya menggadaikan NKRI? Siapa yang sesungguhnya memecah belah persatuan dan kesatuan di negeri ini? Siapa yang memecah partai politik yang tak kunjung usai, siapa yang memecah organisasi kepemudaan dan berbagai organisasi-organisasi lainnya di negeri ini? ah…., rumput bergoyang pun tak mampu menjawabnya karena rumputnya sudah dimodifikasi oleh penguasa dan media.
****

Komentar

BERITA LAINNYA