oleh

2019, Tetap Seperadik

Oleh : AHMADI SOFYAN – Penulis Buku / Pemerhati Sosial —

POLITIK itu harus dibuat asyik. Demokrasi itu harus dibuat ceria dengan saling menghargai. Beda pilihan Capres/Cawapres silahkan, nggak teguran jangan! Beda pilihan politik boleh, berkelahi jangan!

loading...

————-

TAHAPAN pesta demokrasi baru saja dimulai. Namun berbagai berita hoax, cacian, fitnah, bahkan kaplingan sorga sudah diolah oleh media sosial. Persekusi terhadap orang-orang yang tak seirama dan sejalan masih terus terjadi di negeri Pancasila. Nyinyir, cacian bahkan fitnah sengaja dihembuskan untuk membuat suasana kian tak kondusif.

Antar Ormas saling adu kekuatan dan kekuasaan, saling mengaku paling Pancasila walaupun perilakunya sangat bertentangan dengan Pancasila. Mengaku paling Bhennika Tunggal Ika, tapi tindakannya berbalik dari apa yang diucapkan. Yang paling menyedihkan, ada ulama yang bahkan tak menghargai ulama bahkan bernada menyerang. Ada ulama yang dianggap tak sejalan, dihujat habis-habisan. Sedih, kala ini sudah mulai terjadi ditengah-tengah orang yang harusnya kita hormati.

Berbagai kejadian ini, adalah cerminan bagi kita semua bahwa ternyata tingkat kedewasaan mayoritas masyarakat Indonesia masih dalam taraf balita. Hanya karena perbedaan warna sesaat saja, kita tak lagi saling menyapa, padahal sebelumnya seiring dan seirama. Proses demokrasi sudah berjalan, tak boleh dikotori dengan menghalalkan segala cara walaupun dalam politik bagi sebagian orang tak ada yang haram alias semuanya halal yang penting tujuan tercapai, begitu menurut Machiavelli.

Karena ketidakdewasan dan menghalalkan segala cara, baik dari para calon, timses maupun para pendukung yang fanatik membabi buta, tindakan dan perilaku-perilaku bully, nyinyir, cacian, fitnah bahkan persekusi menjadi berita yang menyayat hati. Bahkan yang sangat disayangkan pada “seperadik” (keluarga) sendiri menjadi begitu mudah kita umbarkan seakan-akan pilihan kita-lah yang paling benar.

Komentar

BERITA LAINNYA