oleh

2019, Tahun Baru Demokrasi Panas

Oleh: Ahmadi Sopyan – Penulis Buku / Pemerhati Sosial
BEBERAPA tahun terakhir ini kita dijejali dengan demokrasi yang kian tak dewasa dann tak menggembirakan. Sekarang kita memasuki tahun baru 2019, tapi perilaku demokrasi kita masih seperti gaya demokrasi anak-anak TK.

—————-

BARU beberapa hari ini kita memasuki tahun baru 2019. Gegap gempita menyambut tahun baru ini sepertinya tak mampu mengalahkan riuhnya menyambut pesta demokrasi 2019. Ada yang teriak ganti tahun ganti Presiden, ganti tahun ganti Wakil Rakyat di Parlemen, ganti tahun ganti dukungan partai politik dan sebagainya. Tapi apapun itu, semuanya adalah hal yang biasa sebagaimana tahun-tahun berganti pun demikian, adalah hal yang biasa.

Yang paling penting dari semua adalah seharusnya pergantian tahun harusnya membuat kita kian dewasa dalam berdemokrasi. Pergantian tahun kali ini menjadi istimewa karena memang riuh pesta demokrasi yang akan berlangsung sepertinya cukup panas. Pemilu serentak dari pemilihan Wakil Rakyat dan Wakil Daerah diberbagai tingkat (DPRD Kabupaten/Kota, Provinsi , DPR RI dan DPD RI) juga pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang paling riuh dan penuh dengan strategi serta adu debat di televisi.

2019 baru menyapa kita dalam hitungan hari, gas poll pesta demokrasi kian panas. Para kontestan perebutan kekuasaan mulai menjalani roda-roda strategi untuk mencapai apa yang ia inginkan (kekuasaan). Hiruk pikuk kampanye dengan tampilan muka berbagai ukuran menghiasi setiap sudut kota dan kampung kita melalui spanduk maupun baliho semakin ramai dan memenuhi jalanan. Wajah-wajah yang baru kita kenal bahkan sangat asing maupun yang sudah tak asing lagi begitu ramah mengumbar senyum kepada setiap yang lewat. Kata-kata narsis begitu menjejali mata sehingga tak mungkin lagi terbaca karena begitu banyaknya. Setiap baliho dan spanduk menawarkan produk dirinya bersama janji-janji “sorga”. Maklum, 2019 adalah tahun politik yang dipastikan lumayan panas dan semoga tak beringas.

Komentar

BERITA LAINNYA