Opini

Prospektus Babel Modern (Bagian 1 – 4), Dukun Kuasai Kekayaan Alam Babel

Oleh: Safari Ans – Salah Satu Tokoh Pejuang Pembentukan Provinsi Babel —
“TERNYATA sejak zaman kerajaan nusantara hingga sekarang dukun pemegang kuasa kekayaan alam Bangka Belitung (Babel). Kini para dukun dihimpun dalam Lembaga Adat Babel. Seharusnya Lembaga Adat wajib miliki 50 persen kekayaan alam Babel, sisanya milik pengusaha. Atau 25 persen milik Babel Inc sebagai BUMR masyarakat Babel. Sebuah rekayasa demi kemakmuran bersama.”

——————

KETIKA Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama Republik Indonesia dengan STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung (Babel) melakukan kerjasama penelitian dan penulisan sejarah Kerajaan Balok (1616 – 1873) di Belitung pada tahun 2009 menyimpulkan tentang hebat peran para dukun yang menguasai sumber kekayaan alam, sehingga setiap aktivitas yang berkaitan pemanfaatan kekayaan alam di Belitung harus mendapatkan izin dukun tersebut. Di Bangka pun menurut sejarawan Bangka Akhmad Elvian peran dukun juga sama seperti di Belitung. (Baca buku: Kampoeng di Bangka Jilid II, halaman 67, Akhmad Elvian, cetakan pertama tahun 2016).

Bahkan menurut buku itu, pada tanggal 17 September 1850 Masehi, Residen Bangka mengutus Dr.I.H Crooekerit untuk menyelidiki kandungan biji timah di pulau Belitung. Berdasarkan laporan dari  Dr.I.H Crooekerit dinyatakan, bahwa di pulau Belitung jumlah kandungan biji timahnya sangat sedikit. Hasil penyelidikan Dr.I.H. Crooekerit kemudian diserahkan kepada insinyur pertambangan de Groot dan Huguenin. Karena berdasarkan penelitian Dr.I.H Crooekerit jumlah kandungan timah di pulau Belitung sangat sedikit, maka pemerintah Hindia Belanda menyerahkan eksplorasi penambangan Timah di pulau Belitung kepada industri swasta yaitu kepada I. Loudon dan Baron Tuijl van Serooskerken, berdasarkan keputusan pemerintah tanggal 23 Juli 1851 nomor 2.

Penelitan yang dilakukan oleh Residen Palembang, de Heere dan Dr.I.H Crooekerit yang menyatakan di pulau Belitung sangat sedikit kandungan timahnya karena pengkopongan pasir Timah yang dilakukan oleh para dukun tanah di Belitung atas perintah depati. Pengopongan terhadap Timah juga dilakukan oleh dukun-dukun di pulau Bangka atas perintah depati, batin, dan krio terutama untuk menjaga kampung dan bagian-bagian hutan dan tanah yang dilindungi untuk kepentingan tertentu dan untuk kepentingan masyarakat dari eksplorasi atau penambangan Timah oleh Belanda. Biasanya proses menjadikan kandungan Timah menjadi ampak dalam istilah Bangka atau menjadi kopong dalam istilah Belitung dilakukan oleh dukun dengan cara mengasalkan Timah dengan disarat melalui doa dan mantera-mantera tertentu disertai dengan penanaman jenis tumbuhan dan benda tertentu.

Masih menurut buku itu, Derita Prapti Rahayu dalam buku “Kelekak Sejarah Bangka” halaman 264-265, menjelaskan proses menjadikan timah ampak atau pengopongan timah dilakukan dengan Tumbuhan kumbe’ adalah tumbuhan sejenis herba yang digunakan sebagai syarat untuk mengasal Timah. Proses pemasangan sarat ini tentunya diikuti dengan niat dan doa-doa atau mantra-mantra tertentu.

Laman: 1 2 3 4 5

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top