BERITA PILIHAN

Menakar Deretan Kelemahan Jokowi-KH Ma’ruf Amin Vs Prabowo-Sandiaga

Babelpos.co – Pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga resmi mendaftar ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI sebagai bacapres-bacawapres untuk Pilpres 2019.

Pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin lebih dulu mendaftar di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat (10/8/2018) pada pukul 10.00 WIB.

Keduanya dikawal para elit sembilan parpol pengusungnya, pendukung dan para relawan.

Sementara pasangan Prabowo-Sandiaga Uno menyusul kemudian usai melaksanakan shalat Jumat di Masjid Sunda Kelapa.

Tak berbeda, koalisi oposisi itu juga dikawal para elit parpol pengusung, pendukung dan relawannya.

Baik Jokowi-KH Ma’ruf Amin maupun Prabowo-Sandiaga, sama-sama memiliki keuntungan dan kelebihan masing-masing.

Tapi, yang tak banyak diperbincangkan adalah, kedua pasangan calon itu juga sejatinya sama-sama memiliki kelemahan dan kekurangan.

Demikian disampaikan peneliti Surabaya Survey Center (SSC) Surokim Abdussalam kepada JawaPos.com (grup pojoksatu.id), Jumat (10/8/2018).

Berikut deretan kelemahan dan kekurangan dari masing-masing pasangan.

Jokowi-KH Ma’ruf Amin
Sosok Rais Amm Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu sejatinya menjadi kelemahan sekaligus kekurangan terbesar pasangan tersebut.

Pasalnya, usia Kiai Ma’ruf yang sudah menginjak 75 tahun tentu membuatnya kurang lincah.

Terlebih, tentu benar-benar akan membutuhkan tenaga super ekstra saat menjalani masa kampenye nantinya.

“Usia Ma’ruf bukan usia produktif. Yang ideal itu bisa bergerak lincah, terutama dalam mencari dukungan,” kata Surokim.

Di sisi lain, dengan usia tersebut, tentu akan sangat berpengaruh pada pemilih pemula alias generasi milenial.

Sebab, generasi ini lebih condong menyambut sosok atau profil yang tak jauh berbeda pada generasi yang sama.

“Generasi ini cenderung lebih ekpresif inovatif untuk akomodasi pemilih yang sama-sama segenerasi milineal,” terangnya.

Prabowo-Sandiaga
Duet yang diusung Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PK), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat ini justru dibayangi ancaman melemahnya mesin partai koalisi sendiri.

Hal itu disebabkan akumulasi resistensi parpol koalisi terhadap sosok mantan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.

Meski pada akhirnya dipaksa mundur, hal itu tak secara otomatis merubah persepsi parpol lainnya. Implikasi yang cukup kentara tentu saja datang dari partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Prabowo dan Sandiaga ini berasal dari satu partai. Jadi agak sulit bisa mengerakkan mesin partai koalisi secara maksimal,” jelasnya.

Tak hanya itu, kelemahan juga datang dari latarbelakang keduanya. Prabowo dari militer dan Sandi berlatarbelakang seorang pengusaha.

Background tersebut, urai Surokim, diyakini tak akan maksimal meraih dukungan dari umat Islam.

Terlebih, rekomendasi ijtima ulama beberapa waktu lau malah tidak dilaksanakan oleh Prabowo. Apalagi, dua nama alternatif yakni Ustadz Arifin Ilham dan Aa Gymnastiar juga ditampik begitu saja.

Posisi tersebut tentu akan berdampak pada suara umat Islam terutama dari kalangan Nahdliyin yang lebih mendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Afiliasi kelompok islam majority-nya kurang karena latar belakang militer dan pengusaha,” katanya.

“Sementara fakta sosial kalangan agamis masih jadi modal sumbolik,” pungkas Surokim. (mkd/JPC/ruh/pojoksatu)

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top