Taring

Tegur Sapa

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku/Pengamat Sosial

Tegur sapa adalah budaya kita. Tegur sapa adalah
kehidupan kita, yang mendarah daging dalam setiap aliran jiwa.
Tegur sapa adalah roh silaturrahim dalam anjuran agama,
ia tak boleh sirna apalagi hanya sekedar partai dan pilihan berbeda.

PROSES setiap manusia mengawali kehidupannya diawali dengan tegur sapa. Sebelum adanya kita, Ayah dan Ibu sebagai pasangan orangtua yang diawali dengan tegur sapa dan akhirnya dalam proses panjang mereka pun hidup berumah tangga, lalu karena cinta, lahirlah kita. Dalam proses lahir pun kita diajarkan dalam tegur sapa. Sang Ibu tak melahirkan dengan sendirinya, tentu ia dibantu oleh dokter, bidan, dukun beranak, keluarga dan juga tak ketinggalan tetangga. Tangisan pertama kita pun sebagai tanda tegur sapa memasuki alam dunia dan kepada orang-orang di sekitar kita, tanpa kita mengetahui siapa mereka.

Kini, semakin sibuknya penduduk dunia, juga semakin canggihnya teknologi yang ada, tegur sapa menjadi barang yang mahal walau tak berlabel harga. Kita terlalu sibuk dengan alasan kerja, akhirnya tak ada waktu kumpul dengan tetangga. Terlalu banyak alasan mendera, sehingga kumpul keluarga pun waktunya tak lagi ada. Kita terlalu sibuk ke luar kota, sehingga orangtua seringkali kita lupa, padahal mereka sudah kian renta menahan rindu di dada sambil memanjatkan do’a. Kita seringkali silaturrahim ke rumah atasan atau rekan kerja, tapi rumah orangtua kita lewati begitu saja. Kita merasa besar dan kaya, padahal di mata orangtua kita tetaplah anak kecil yang masih terus merengek-rengek kepada mereka, apalagi jika ada masalah yang mendera.

Padahal, kemajuan sebuah bangsa diawali pendidikan dan berbudayanya sebuah keluarga. Selanjutnya kemajuan sebuah bangsa yang maju dan berkembang ditandai oleh pendidikan dan budaya generasi penerusnya. Pendidikan dimaksud bukan hanya dalam konteks pendidikan (sekolah) secara formal semata, melainkan pendidikan moral, budaya dan akhlaknya. Tak sedikit generasi yang pintar dan sukses secara “tertulis” (kuantitatif), namun keberhasilan itu belum didukung oleh keberhasilannya dalam berinteraksi di lingkungan sosial dimana ia berada. Karena, dengan berinteraksi dan bersosialisasi kita dapat berkomunikasi dan menjalin tali silaturrahim tanpa memandang dia apa dan siapa. Meski sepertinya sangat sepele tanpa harga, namun ternyata ia memiliki dampak besar menentukan keberhasilan “sejati” terutama bagi kalangan muda.

Tegur sapa pada intinya adalah pernyataan awal seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan orang yang disapanya. Oleh karenanya, orangtua dan guru-guru telah mengajarkan kepada kita untuk saling tegur sapa, atau minimal memberikan senyuman ikhlas tuk sekedar menggambarkan budaya ketimuran bangsa Indonesia. Sejarah dunia (dulu) menorehkan dalam tinta emasnya, bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mudah bergaul dan ramah tamah karena tegur sapanya. Begitu mudah untuk tegur sapa, tapi kenyataannya di dunia nyata bahkan dunia maya, kenapa justru sulit sekali kita mempraktekkannya. Apakah sudah begitu terkikisnya budaya tegur sapa masyarakat kita di Negeri berfalsafah Pancasila?

Laman: 1 2 3

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top