Mutiara Ramadhan

Selamat Idul Fitri

Oleh: Mammaqdudah – Penulis adalah penikmat sastra tinggal di Air Itam Pangkalpinang —
RAMADHAN akan berakhir. Akhir itu ditandai dengan kemenangan besar atas mereka yang merasakan begitu beratnya perjuangan, yaitu perjuangan melewati puasa Ramadhan. Berat, terutama bagi mereka yang selama ini disibukkan dengan urusan duniawai.

—————

ESENSI berat itu bukan pada menahan haus dan lapar, bukan untuk tidak melakukan hubungan badan bagi pasangan suami istri, tapi berat itu adalah bagaimana mengendalikan hawa nafsu. Sebab, nafsu jika tidak dikendalikan dengan baik maka akan mengendalikan diri dalam setiap keburukan. Berkata tidak jujur, mencela, finah, menggunjing dan hal lainnya yang akan menjerumus pribadi manusia.

Itulah peperangan sejati manusia pada puasa Ramadhan. Bagi mereka yang mampu melewati beratnya perjuangan itu, maka mereka adalah orang-orang sukses lahir dan batin. Sudah barang tentu tidak ada kemenangan yang dapat diraih tanpa perjuangan. Bangsa ini pun meraih kemerdekaan dengan perjuangan yang melelahkan.

Kemenangan manusia setelah melalui perjuangan puasa Ramadhan dirayakan dengan Iduf Fitri. Kegembiraan yang tiada banding begitu dirasakan oleh mereka yang benar-benar merasa sukses setelah melalui fase beratnya puasa Ramadhan. Berbagai tawaran pahala seperti membaca Alquran, solat Tarawih, Witir, dan ibadah lainnya tidak terlewatkan dan terus dilakukan selama Ramadhan. Syukur atas apa yang telah mereka lewati maka datanglah Idul Fitri pada 1 Syawal.

Idul Fitri sesungguhnya diperuntukkan bagi mereka yang telah berhasil melewati cobaan dan tantangan selama Ramadhan dan mengisi Ramadhan dengan ibadah. Idul Fitri kadang dimaknai kembalinya seorang manusia kepada fitrah kesucian. Atau pulangnya manusia kepada kesuciannya, dimana manusia ketika hadir ke muka bumi sesungguhnya ia pribadi yang suci. Maka, ketika sukses melewati puasa Ramadhan ia menjadi suci kembali saat ia dilahirkan, tanpa ada noda dan catatan dosa. Idul Fitri begitu luar biasa bagi mereka yang benar-benar melewati fase-fase larangan dan anjuran selama Ramadhan.

Idul Fitri kemudian dijadikan media bagi umat manusia untuk saling memaafkan. Sudah barang tentu untuk meminta maaf dan memberi maaf bukan hanya pada moment Idul Fitri. Tapi, bagi sebagian orang pada momen Idul Fitri lah proses untuk meminta maaf itu terasa begitu mengena. Anak dengan sembah sujudnya dan dengan ketulusannya meminta maaf dengan orang tua. Proses ini akan lebih memberikan warna kebatinan ketika dilakukan usai melakukan solat Idul Fitri. Ada cucuran air mata ketika itu, tanpa disengaja dan dipaksakan. Makna ketulusan pada pribadi-pribadi manusia seperti tanpa ada tapal batas. Cakrawala Idul Fitri begitu membahana ketika takbir mengumandang dan terus diperdengarkan.

Laman: 1 2 3

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top