Opini

Masyarakat Model Pendidikan Berkebudayaan

Oleh: Dani Akhmad Ma’rufin, S.Pd – Guru SMA Negeri 1 Pemali

MASYARAKAT sebagai klien sekaligus konsumen bidang pendidikan belum sepenuhnya dijamin dan diberdayakan oleh pemerintah (Baedowi A: 2015). Fakta itu terlihat dari keterlibatan masyarakat di dunia pendidikan yang selama ini belum optimal dan bahkan digaris kepasifan yang memprihatinkan.

————–

MASYARAKAT kebanyakan mengamanatkan pendidikan dengan tendensi cuci tangan dari tanggungjawab dalam prosesnya. Keadaan ini mengakibatkan masyarakat cerdas (smart people) susah untuk tumbuh dan cacat dalam perkembangannya. Tidak heran jika tawuran pelajar, pergaulan bebas, dan narkoba menjadi problem eksplosif dalam masyarakat. Seharusnya bukan menjadi tanggungjawab masyarakat semata akan tetapi pemerintah juga ikut andil. Selama ini walaupun sudah ada tapi kebijakan pemerintah itu belum menyentuh hal sensitif dari masyarakat yang menggugah kepedulian dan keterlibatan langsung dalam pelaksanaan pendidikan. Sebagai bagian dari realisasinya yaitu terlibatnya masyarakat sebagai komite sekolah yang faktanya belum banyak menunjukkan peran aktif dalam pemajuan pendidikan karena implementasinya kurang dan lebih hanya sebagai bentuk formalitas saja.

Masyarakat harus dinamis, apalagi untuk pendidikan. Ini tuntutan prioritas untuk meningkatkan peradaban. Nilai kemanusiaan dan keadilan yang berorientasi kepada kesejahteraan bersama akan mudah terwujud dalam masyarakat dengan peradaban tinggi begitu juga berlaku sebaliknya. Ekspektasi menjadikan masyarakat modern yang berkebudayaan dan cinta lingkungan hidup menjadi keniscayaan dalam peradaban era global dengan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjadi model yang patut ditauladani bagi generasi penerus. Sehingga perlu digalakkan masyarakat peduli pendidikan yang sinergi dengan kebijakan pemerintah pro-masyarakat. Selain itu, kerjasama yang tidak kalah pentingnya adalah masyarakat dengan sekolah. Sekolah merupakan perwujudan lembaga formal pendidikan yang membutuhkan masyarakat bukan hanya sekedar sebagai konsumen akan tetapi lebih sebagai klien untuk bersama-sama membangun pendidikan bermutu yang berbasis kebudayaan. Dalam banyak penelitian tentang peran serta masyarakat dalam pendidikan, bentuk kemitraan sekolah dan masyarakat yang sederajat (equal partnership) merupakan strategi yang paling efektif dan memberi pengaruh besar kepada hasil belajar siswa (Bauch and Goldring: 1998).

Pendidikan dengan segala aktivitasnya diharapkan tidak meninggalkan keragambudayaan karena itu merupakan kekayaan yang harus dilestarikan dan dijaga eksistensinya. Pendidikan berkebudayaan diharapkan menjadi solusi dalam mencapai kehidupan bersama karena berbaurnya budaya masyarakat berpotensi menimbukan manfaat tetapi dalam waktu yang sama juga bisa menimbulkan konflik. Fakta sosial empiris yang ada menunjukkan bahwa sebagai masyarakat multi-kultural, bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan yang bersifat lokal dan global (Zuriah:2010).

Laman: 1 2

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top