Taring

Bocah Ngapa Yak?

Oleh: AHMADI SOFYAN – Penulis Buku/Pemerhati Sosial

PUASA mendidik pelakunya menjadi manusia dewasa (taqwa). Ramadhan adalah sekolah yang mendidik kita dari bocah untuk menjadi dewasa. Nyatanya, kita masih berperilaku seperti bocah dalam tubuh yang renta.

KONON, di sebuah kampung yang begitu religius (agamis) dengan penduduk yang semuanya melakukan ibadah puasa, diributkan dengan kehadiran seorang bocah dekil mondar-mandir keliling kampung pada siang hari. Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda remaja Masjid dan para orangtua yang hendak menunaikan ibadah sholat Zuhur. Perilakunya sungguh menyebalkan. Bagaimana tidak, di saat semua orang sedang berpuasa ditengah terik matahari yang bersinar terang, sang anak berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak begitu nikmat dan ditangan kirinya memegang es kelapa muda, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik tersebut.

Bagi masyarakat kampung, hal ini bukanlah masalah, tapi menjadi masalah besar dan membuat “gerigit ati” ketika dilakukan pada siang hari di bulan Ramadhan, terlebih disaat terik matahari menghujam bumi. Hal ini juga bukanlah masalah, tapi menjadi masalah besar karena sang bocah sengaja menikmati roti isi daging dan es kelapa muda persis dihadapan orang-orang yang sedang berpuasa sambil mengejek bahkan menyodor-nyodorkan kepada mereka yang sedang berpuasa dengan disertai ejekan “tidak nikmatnya” berpuasa. Hal ini ia lakukan terus menerus selama beberapa hari.

Sudah berulangkali bocah itu ditegur oleh remaja Masjid dan para orangtua di kampung, namun ia sama sekali tak bergeming bahkan ia melawan dengan memelototkan matanya yang begitu tajam, merah dan menakutkan. Akhirnya masyarakat kampung pun sepakat melaporkan hal ini kepada seorang ustadz muda dan menceritakan tentang perilaku bocah misterius tersebut. “ini sudah mengganggu kekhusyu’an ibadah puasa kita”. “Ini sudah kebangetan, tidak bisa dibiarkan” dan berbagai tudingan yang semuanya berisi hal negatif terhadap perilaku bocah tersebut. Sang Ustadz muda pun setuju. Lalu keesokan harinya ditengah terik matahari, sang ustadz sengaja menunggu kehadiran sang bocah tersebut. Kehadiran dan kepergiannya selalu misterius. Bagaikan jailangkung, “datang tak diundang pulang tak diantar”.

Laman: 1 2 3 4

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top