BERITA PILIHAN

Amir Dibuang Tanpa Disidang

*Laporan dari Den Haag Bagian Kedua

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarawan Bangka
SEJAK Tanggal 29 Desember 1850, pemberontak Amir dan pengikutnya dikejar dan dikepung militer Belanda. Pada tanggal 7 Januari 1851, Amir ditangkap di hutan Mendobarat ketika hendak meloloskan diri ke distrik Sungaiselan. Amir lalu dibawa ke markas militer Belanda di Bakam dalam kondisi terikat, kemudian untuk alasan keamanan pada tanggal 16 Januari 1851 dibawa ke kapal perang api ‘Onrust’ yang berlabuh di Teluk Kelabat, Distrik Belinyu.

—————–

BERDASARKAN surat dari Residen Batavia tanggal 22 Januari 1851, nomor 241, diberitahukan kedatangan kapal perang Api ‘Onrust’, yang mengangkut Amir dan beberapa pengikutnya di Batavia untuk selanjutnya ditahan di rumah penjara Batavia.

Berdasarkan pertimbangan dan saran dari para anggota Dewan Hindia Belanda tentang pengiriman Amir dan keluarganya ke Batavia: -usul agar mereka dipisah dan -usul agar kapal perang api ‘Onrust’ secepatnya dikirim kembali dan kabar selanjutnya tentang keadaan di sana, maka: Dewan Hindia Belanda setuju dengan pemilihan pulau Timor untuk tempat tinggal pembuangan Amir dan keluarganya, dan setuju terhadap pemilihan pulau Timor dan tindakan yang tidak perlu dirahasiakan, asal cara penjagaan di sana cukup! (ANRI: Kl 24 Januari 1851 Nomor 864) tanggal 27 dan 28 Januari 1851. Berdasarkan saran dari anggota Dewan Hindia Belanda, Pemerintah Belanda kemudian mengeluarkan Keputusan tentang hukuman pembuangan selamanya kepada pemberontak Amir yang telah melakukan perang terbuka melawan Pemerintah Belanda ke pulau Timor, berdasarkan Keputusan Pemerintah/ Besluit tanggal 4 Februari 1851 nomor 3.

Berdasarkan Surat dari Residen Batavia kepada Menteri Negara Gubernur Jenderal, Batavia 10 Maret 1851 Nomor 850, Lampiran 1 (ANRI; Bt 25 Maret 1851 Nomor 13.Kl 13 Maret 1851 Nomor 2903) : “…Sementara itu, pada kesempatan lain, saya kabarkan kepada Anda yang Terhormat, bahwa Amir termasuk ibunya Dakim, istrinya Imoer (Janur), saudara perempuannya Ipa dan Sena, iparnya Gindip (Dindip), anak angkatnya Baidin, pembantunya Mia, disebabkan ayat 1 dan ayat 2 dari Besluit Pemerintah 4 Februari 1851 nomor 3, kemarin (maksudnya Tanggal 9 Maret 1851) dengan kapal api ‘Argo’ dikirim ke Surabaya dan akhirnya dari sana (Surabaya) dengan kapal api ‘Banda’ dikirim ke pulau Timor. Sedangkan Kapidin (kakak?), Lindam (ibunya Kapidin), Djida sejauh ini belum dibawa dari Bangka”.

Laman: 1 2 3 4 5

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top