Taring

Nampel

Ahmadi Sofyan2 - Nampel

Oleh: AHMADI SOFYAN - Penulis Buku / Pemerhati Sosial --

PERILAKU “nampel” hendaknya dijaga, dirawat dan bahkan bisa menjadi bagian dari budaya atau kearifan lokal. Dengan “nampel” yang murni (bukan karena politik), tapi murni silaturrahmi, Anda akan mendapatkan cinta yang tak mengada-ada dan kasih sayang yang tak terbilang. Karena memang, NAMPEL adalah NAMbah nemPEL.

----------------

BEBERAPA waktu lalu, salah satu Stasiun Radio di Pangkalpinang dalam acara “Cerudik” mewawancarai saya melalui handphone mengenai pengaruh media sosial dari sisi budaya masyarakat kita. Sambil badan lagi diurut oleh tukang pijat di kampung, saya katakan bahwa kemajuan teknologi dan modernisasi merubah pola silaturrahim masyarakat kita.

Hal ini tidak bisa kita tolak, namun semestinya harus membuat kita semakin bijaksana serta tidak melupakan kearifan lokal warisan para orangtua terdahulu. Salah satu kearifan lokal yang sangat positif adalah kebiasaan orangtua kita dahulu, yakni “nampel”. (Membaca kalimat “nampel” dengan huruf “e”, sama dengan membaca kalimat “bebek”).

Nampel” adalah silaturrahim sesungguhnya yang dilakukan oleh para orangtua kepada sanak famili, tetangga, kenalan, sejawat, rekan dan sebagainya. Banyak hal yang dibicarakan dalam perilaku “nampel”. Namun pada umumnya budaya ini sangatlah bagus karena memperkokoh jalinan kekeluargaan, pertemanan, persahabatan dan perkenalan. “Nampel” merekatkan yang kurang terrekat, mengokohkan yang masih goyah, mendekatkan yang masih jauh dan merapatkan yang sudah dekat.

Laman: 1 2 3 4 5

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top