HISTORI

Bangka Dalam Kronik Revolusi Indonesia Tahun 1948-1949 (Bagian Pertama)

Oleh: Akhmad Elvian – Sejarahwan Bangka

PADA tanggal 18 Desember 1948, pemerintah Belanda mengumumkan kepada delegasi Indonesia dan Komisi Tiga Negara (KTN), bahwa Belanda tidak lagi mengakui dan terikat pada hasil perundingan Renville yang ditandatangani pada tanggal 8 Desember 1947 (Notosusanto, 1977:192).

————

PADA tanggal 19 Desember 1948, Ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta diduduki pasukan Belanda melalui Agresi Militer (sejak tanggal 4 Januari 1946 ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta).

Pemerintah Belanda melalui Agresi Militer ingin menghapuskan Negara Republik Indonesia dari muka bumi. Presiden dan Wakil Presiden pada tanggal 19 Desember 1948 dalam keadaan genting mengeluarkan Surat Kawat yaitu “Jika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat menjalankan kewajibannya lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintah Darurat di Sumatera”, kemudian Surat Kawat Kedua dikeluarkan oleh Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri, bahwa “Jika ichtiar Sjafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat di Sumatera tidak berhasil, kepada saudara-saudara Dr. Soedarsono, Palar dan Mr. Maramis, dikuasakan untuk membentuk exile-Government di India. Harap dalam hal ini berhubungan dengan Sjafruddin di Sumatera. Jika hubungan tidak mungkin, harap ambil tindakan-tindakan seperlunya” (Arsip Nasional RI, 1989:hal. 101-102).

Pada pukul 07.00 WIB tanggal 22 Desember 1948 para pemimpin republik yang ditahan pasukan Belanda diterbangkan menggunakan pesawat pembom B-25 untuk diasingkan ke Pulau Bangka. Wakil Presiden Republik Indonesia, Drs. Moh. Hatta, Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU), RS. Soerjadarma, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), MR. Assaat dan Menteri Sekretaris Negara, MR. AG. Pringgodigdo diturunkan di pelabuhan udara Kampung Dul Pangkalpinang dan terus dibawa ke Bukit Menumbing Muntok dengan dikawal truk bermuatan tentara Belanda dan berada dalam pengawalan pasukan khusus Belanda, Corps Speciale Troepen. Sementara itu rombongan Presiden Republik Indonesia Soekarno, Menteri Luar Negeri, Haji Agus Salim dan Sutan Sjahrir terus diterbangkan lagi dengan pesawat yang sama menuju Medan, Sumatera Utara, untuk kemudian diasingkan ke Brastagi dan Parapat (Mulyana,dkk, 2003:14).

Laman: 1 2 3 4 5 6

loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

babelpos.co -- Harian Babel Pos / Jawa Pos Grup Gedung Graha Pena Bangka Jl. Jendral Sudirman No.10 Selindung Baru Pangkalpinang Telp: 0717-433335 Fax:0717-435724

Copyright © 2018 babelpos.co

To Top